Paramedis di Palestina

/ admtwi

Dokumentasi: Rekan kerja Mohammed Al-Jdaili saat menghadiri pemakaman di camp pengungsian Bureij, di Jalur Gaza Tengah (11/6). (Foto: AFP)

 

Mohammed Al-Jdaili (36) tidak bisa diselamatkan walau sudah menjalani perawatan di Hebron, Tepi Barat (10/6). Ia menjadi paramedis kesekian yang gugur dalam misi kemanusiaan di tanah Palestina. Bentrok yang terjadi di utara Jalur Gaza pada 3 Mei lalu membuat wajahnya terkena peluru berlapis karet. Saat itu ia tengah memberikan pertolongan bagi para korban luka-luka dekat pagar perbatasan di Jabalia, Utara Jalur Gaza.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, dalam peristiwa ini ada tiga paramedis lainnya yang gugur. Sejak bentrokan paling sengit dalam beberapa tahun terakhir itu, aksi saling serang terus terjadi hingga dua hari berturut-turut. Dalam banyak berita, disebutkan setidaknya ada 294 warga Palestina yang menjadi korban tewas.

Perjuangan paramedis tidak akan pernah percuma. Pertolongannya menjadi yang pertama menyelamatkan lukanya raga warga. Sahabat, mari berikan doa paling khusyuk untuk mereka di sana. Bismillah.

Sahabat, negara dalam kondisi peperangan seperti ini sangat memungkinkan kehilangan kebutuhan dasar. Beberapa diantaranya kekurangan makanan, pakaian terbatas, dan tempat tinggal kurang layak. Serangan tidak berkesudahan menjadikan layanan kesehatan sebagai fasilitas kebutuhan dasar yang dibutuhkan.

Dompet Dhuafa bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan lembaga lainnya memiliki inisiatif untuk membangun Rumah Sakit di Tepi Barat, Hebron, Palestina. Rumah Sakit ini bukan hanya memberikan fasilitas pengobatan secara fisik dan fisioterapi, namun juga secara psikis dampak peperangan.

Kerja sama MUI bersama antar lembaga ini menjadi wadah Orang Indonesia untuk berbagi dan mengalirkan pahala yang mengalir abadi di tanah Palestina. Siap membersamainya, Sahabat?

Klik Donasi Sekarang