7 Penghapal Al-Quran dalam Sejarah Islam

/ admtwi

 

1. Ali bin Abi Thalib

Abu Abdurrahman as-Sulmi berkata,

“Aku tidak pernah melihat seorang yang lebih pandai dalam Al-Qur’an daripada Ali,”

Ali berkata tentang dirinya dan karunia Allah kepadanya, “Demi Allah tidak satu pun ayat yang diturunkan kecuali aku telah mengetahui tentang apa dan dimana diturunkan. Sesungguhnya Allah telah memberikan kecerdasan hati dan lidah yang fasih,”.

 

2. Abu Darda

Seorang hafidz yang bijaksana.

Ia termasuk orang yang mengumpulkan Al-Qur’an pada masa khalifah Utsman bin Affan. Selama hidupnya ia mengajarkan kepada umat apa yang ia pelajari dari Rasulullah.

Dalam pengakuan Suwaid bin Abdul Aziz, dikatakan jika Abu Darda salat di Masjid Damaskus, ribuan manusia mengelilinginya untuk mempelajari Al-Qur’an. Jumlah penghafal Al-Qur’an dalam majelis Abu Darda mencapai 1.600 orang. Beliau wafat tahun 32 hijriah pada masa khalifah Utsman di Syam.

Ia telah meriwayatkan 179 hadits.

 

3. Abu Musa Al-Asy’ari

Ia memiliki suara merdu dalam membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan mampu menembus hati orang-orang mukmin dan melenakannya menembus kebesaran Allah. Rasulullah pun pernah memuji suaranya yang merdu itu,

“Ia (Abu Musa) benar-benar telah diberi seruling Nabi Daud,”

 

4. Abdullah bin Mas’ud

Ia merupakan salah seorang penghimpunan Al-Qur’an di masa Rasulullah.

Ia pernah berkata,

“Aku telah menghafal dari mulut Rasulullah tujuh puluh surat,”.

Pendengarannya selalu dihiasi dengan ayat-ayat Al-Qur’an sejak turun kepada Rasulullah. Kiprahnya dalam memelihara Al-Qur’an tidak diragukan lagi. Abdullah menjadi ulama yang paling tahu tentang Al-Qur’an. Tak heran jika Rasulullah memujinya dan mengajukan para sahabat dan orang setelahnya untuk mempelajari kandungan Al-Qur’an darinya

Abdullah bin Mas’ud wafat pada tahun 32 hijriyah. Ia wafat di Madinah dan telah meriwayatkan 840 hadist.

 

5. Utsman bin Affan

Ia dikenal sebagai sahabat Rasul yang hatinya nempel dengan Al-Qur’an.

Dimasa kekhalifahannya, ia berhasil menghimpun Al-Qur’an dalam satu mushaf dan menyebarkannya pada beberapa kota. Ali bin Abi Thalib pun memujinya, “Kalaulah Utsman tak melakukannya maka pasti akan ku lakukan,”

Selain itu Utsman juga mampu menyatukan Al-Qur’an yang tujuh jenis huruf atau dialek hingga terhindarlah malapekata dan fitnah perpecahan umat.

Di akhir kekhalifahannya (tahun 35 hijriah) terjadi kekacauan. Utsman disekap di rumahnya selama empat puluh hari. Ia syahid terbunuh saat membaca Al-Qur’an. Usianya 82 tahun.

 

6. Ubai bin Ka’ab

Sahabat yang hidup dalam naungan Al-Qur’an.

Ia selalu menyempatkan diri membaca Al-Qur’an siang malam dan khatam dalam delapan malam. Umar bin Khattab pernah berkata, “Barang siapa yang hendak menanyakan tentang al-Qur’an datanglah ke Ubai,”.

Ubai telah menjadikan Al-Quran sebagai sumber kebaikan dalam ucapan serta perbuatannya. Ubai selalu menasehati orang-orang untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam setiap perbuatan.

Ubai termasuk sekretaris Rasulullah SAW sebelum Zaid bin Tsabit.

 

7. Zaid bin Tsabit

Ia merupakan sahabat Anshar yang cerdas, penulis, penghafal, dan menguasai ilmu. Zaid dikenal sebagai sekretaris kepercayaan Rasulullah SAW dalam menerima wahyu. Apabila Rasulullah SAW menerima wahyu, Zaid selalu dipanggil untuk menulisnya. Zaid juga sebagai penghimpun al-Qur’an dan menguasai informasi tentang al-Qur’an.

Jasa Zaid dalam upaya modifikasi al-Qur’an sangatlah mulia. Tiada yang mampu menandinginya dalam menulis kalamullah.

 

Itulah kisah mulia para sahabat penghafal al-Qur’an. Mereka adalah orang-orang yang dipilih Allah SWT untuk menjaga Al-Qur’an dengan lisannya.

Sekarang, saatnya kita berikhtiar untuk mengabadikan Al-Qur’an dalam hati dan lisan kita. Selain menghapal dan menerapkannya, kita bisa juga mendukung generasi muda untuk menjadi penghapal Al-Quran.

Insya Allah,

Pahala jariah juga akan menyertai kita untuk mendukung para penghapal Al-Qur’an.